Kamis, 12 November 2015
Rabu, 11 November 2015
Senin, 09 November 2015
Posted by PUSKESMAS TURI
On November 09, 2015
Syarat Syarat Daftar BPJS
Senin, 09 Nopember 2015
BPJS atau badan penyelenggara jaminan sosial merupakan payung untuk masyarakat yang ingin selalu sehat dan mendapatkan pelayanan kesehatan bagus dan ringan nah bpjs ini lahir pada bulan januari 2014,sejak di informasikan bpjs via televisi antusias warga yang ingin mencari informasi tentang bpjs membludak,antusias untuk mendaftar menjadi peserta bpjs juga besar dibuktikanya dengan banyaknya pendaftar bpjs sampai antri ratusan orang setiap harinya.
Sebelum mendaftar bpjs anda wajib tau untuk pekerja non pbi wajib membayar premi setiap bulanya dan untuk peserta kurang mampu atau pbi dibayari pemerintah dengan sesuai prosedur dan aturan main,untuk PNS POLRI TNI langsung dipotong sesuai gaji perbulan karena askes melebur menjadi bpjs namun untuk anda yang sudah mempunyai kartu askes masih bisa digunakan untuk berobat atau anda bisa mengganti kartu askes dengan kartu bpjs dikantor bpjs terdekat.
Nah sering juga peserta bpjs bertanya bagaimana jika KTP saya jogja namun tinggal dijakarta apakah bisa daftar bpjs di jakarta nah saya coba bantu jawab untuk mendaftar bpjs dikota lain sangat bisa karena memang JKN BPJS ini luas jangkauanya nasional jadi bisa daftar dimana saja bisa juga digunakan dimana saja asal masih dalam 1 negara indonesia.
SYARAT SYARAT DAFTAR BPJS
1.Foto copy kartu KTP
2.Foto copy kartu keluarga
3.Foto Berwarna 3×4
2.Foto copy kartu keluarga
3.Foto Berwarna 3×4
Syarat daftar bpjs hanya itu koq nah jika anda baru saja nikah dan kartu keluarga belum satu kertas anda wajib membawa foto copy kartu nikah untuk membuktikan bahwa anda 1 keluarga.namun jika sudah satu kartu keluarga cukup membawa itu saja.
Nah berikut golongan kelas rawat untuk peserta bpjs
a.Kelas 1 59.500
b.kelas 2 42.500
c.kelas 3 25.500
b.kelas 2 42.500
c.kelas 3 25.500
silahkan anda pilih sesuai selera anda uang premi dibayarkan sebelum tanggal 10 setiap bulanya jika warga miskin atau pbi golongan kelas rawat inap kelas 3,dan untuk golongan masyarakat tidak mampu tidak bekerja dibayari pemerintah.
Untuk cara daftar bisa langsung ke kantor bpjs terdekat atau bisa daftar bpjs online klik disini
Reference:
- ,syarat bpjs,persyaratan bpjs,cara membuat bpjs,syarat membuat bpjs,syarat pembuatan bpjs,syarat pendaftaran bpjs,syarat bikin bpjs,syarat buat bpjs,persyaratan membuat bpjs,persyaratan daftar bpjs,
Categories:
Kamis, 23 Oktober 2014
Posted by PUSKESMAS TURI
On Oktober 23, 2014
Pelaksanaan
Posyandu Lansia, Pengisian KMS, Pencatatan &
Rekapitulasi
Hasil Kegiatan Posyandu Lansia
Pelayanan kesehatan di kelompok Usia
Lanjut meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental emosional. Kartu
Menuju Sehat (KMS) Usia Lanjut sebagai alat pencatat dan pemantau untuk
mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman
masalah kesehatan yang dihadapi dan mencatat perkembangannya dalam Buku
Pedoman Pemeliharaan Kesehatan (BPPK) Usia Lanjut atau catatan kondisi
kesehatan yang lazim digunakan di Puskesmas.
1. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan
Untuk memberikan
pelayanan kesehatan yang prima terhadap usia lanjut dikelompok, mekanisme
pelaksanaan kegiatan yang sebaiknya digunakan adalah sistem 5 tahapan (5
meja) sebagai berikut:
a. Tahap pertama: pendaftaran anggota
Kelompok Usia Lanjut sebelum pelaksanaan pelayanan.
b. Tahap kedua: pencatatan kegiatan
sehari-hari yang dilakukan usila, serta penimbangan berat badan dan
pengukuran tinggi badan
c. Tahap ketiga: pengukuran tekanan darah,
pemeriksaan kesehatan, dan pemeriksaan status mental
d. Tahap keempat: pemeriksaan air seni dan
kadar darah (laboratorium sederhana)
e. Tahap kelima: pemberian penyuluhan dan
konseling Untuk lebih jelasnya mekanisme kegiatan sistem 5 tahapan, lihat
matriks berikut ini.
Sesuai
dengan perkembangan dan kondisi masing-masing daerah, kelompok dapat saja menggunakan model “Mekanisme
Pelaksanaan Kegiatan” selain Sistem 5 tahapan ini antara lain:
a.
Terintegrasi dengan kelompok yang sudah ada (majelis Tak’lim, kelompok jemaat
gereja, kelompok arisan, dll)
b.
Kegiatan khusus di sarana pelayanan kesehatan (hari khusus untuk pelayanan usia
lanjut di Puskesmas, RSU, dll).
2.
Petunjuk Pengisian Format PencatatanHasil Kegiatan Kelompok Usia Lanjut
Bulan :
Sudah jelas
Tahun :
Sudah jelas
Nama Kelompok : Sudah jelas
Desa/Kelurahan : Sudah jelas
Kecamatan : Sudah jelas
1. No.
Urut : No urut kunjungan
2. No.
KMS : Sudah jelas
3. Nama :
Sudah jelas
4. L/P :
Sudah jelas
5. Umur :
Sudah jelas
6. Alamat
: Sudah jelas
7.
Kemadirian : Yang dimaksud dengan hidup sehari-hari adalah s/d 11 kegiatan
dasardalam kehidupan seperti:makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik
turun tempat tidur, buang air, besar/kecil dan sebagainya. Kegiatan melakukan
pekerjaan diluar rumah, seperti: berbelanja, mencari nafkah, mengambil pensiun,
arisan, pengkajian, dan lain-lain.
Kategori
A : Apabila usia lanjut sama sekali tidak mampu melakukan kegiatan sehari-hari,
sehingga sangat tergantung orang lain
(ketergantungan).
Kategori
B : apabila ada gangguan dalam melakukan sendiri, hingga kadang-kadang perlu
bantuan (ada gangguan)
Kategori
C : apabila usia lanjut masih mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari tanpa
bantuan sama sekali (mandiri)
8. Mental
emosional: keadaan mental emosional, denganmenggunakan s/d 13 pedoman metode 2
menit melalui 2 tahap pertanyaan:
Pertanyaan
tahap 1:
1. Apakah
anda mengalami sukar tidur?
2. Apakah
anda sering merasa gelisah?
3. Apakah
anda sering murung dan atau menangis sendiri?
4. Apakah
anda sering merasa was-was atau khawatir?
Bila ada
1 atau lebih jawaban “ya” lanjutkan pada pertanyaan tahap 2
Pertanyaan
tahap 2:
1. Apakah
lama keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari 1 kali dalam sebulan?
2. Apakah
anda mempunyai masalah atau banyak pikiran?
3. Apakah
anda mempunyai gangguan atau masalah dengan keluarga atau orang lain?
4. Apakah
anda menggunakan obat tidur atau penenang atas anjuran dokter?
5. Apakah
anda cenderung mengurung diri dalam kamar?
Bila 1
atau lebih jawaban “ya” maka usia lanjut mempunyai masalah emosional.
9. IMT :
Indeks Masa Tubuh ditentukan dengan mencari titik temu s/d (lebih) antara garis
bantu yang menghubungkan berat badan yang
10. N
(normal)sudahdiukurdengan tinggi badan. Nilai normal IMT untuk K (kurang pria danwanita usialanjut berkisar antara 18,5 – 25
L : Bila titik temu terdapat pada daerah
grafik dengan warna merah
N: Bila titik temu terdapat pada daerah grafik
dengan warna hijau.
K: Bila titik temu terdapat pada daerah grafik
dengan warna kuning
10.
Tekanan Darah : Ukuran tekanan darah dengan tensimeter dan stetoskop s/d T (tinggi)
11. N
(normal) R (rendah) :
T : bila
salah satu dari sistole atau diastole, atau keduanya diatas normal
N : bila sistole antara 120-160 dan diastole ≤
90 mmHg
R : bila sistole atau diastole di bawah
normal.
12. Anemi
: Hemoglobine yang nilainya kurang dari 13g% untuk pria dan 12g% untuk wanita
13.
Kencing manis/ : Bila terjadi perubahan warna pada hasil pemeriksaan urine Diabetes melitus menggunakan Combur test
(sesuaikan dengan indikatoruntuk kadar untuk kadar gula)
14.
Ginjal : Bila terjadi perubahan warna pada hasil pemeriksaan urine dengan Menggunakan
Combur test (sesuaikan dengan indikator untuk kadar protein).
15.
Diobati : Beri tanda + atau –
+ : Bila usia lanjut diberi obat 6
- : Bila usia lanjut tidak diberi obat
16. Rujuk : Beri tanda + atau –
+ : Bila usia lanjut dirujuk ke tingkat
pelayanan kesehatan yang lebih tinggi
- : Bila usia lanjut tidak dirujuk ketingkat
pelayanan kesehatan yang lebih tinggi
17. Konseling : Beri tanda + atau – pada kolom
yang sesuai s/d Baru : untuk kasus konseling baru
18. Lama : untuk kasus konseling lama
Selesai: untuk kasus konseling lama
19. Penyuluhan : Beri tanda + atau –
+ : Bila dilakukan penyuluhan
- : Bila tidak dilakukan penyuluhan
DAFTAR PUSTAKA
Anderson, M.A. 2007. Caring for Older Adults Holistically.
4th Edition. F.A. Davis Company. Philadelphia.
Comer, S.
2005. Delmar’s Geriatric Nursing Care Plans. 3rd Edition. Thompson Delmar
Learning. Singapore.
Depkes RI. 2003. Pedoman Pengelolaan Kegiatan Kesehatan di
Kelompok Usia Lanjut. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat DEPKES RI. Jakarta.
Eliopoulus, C. 2001. Gerontogical Nursing. 5th Edition.
Lippincott. Philadelphia.
Maas, M.L. et al. 2008. Asuhan Keperawatan Geriatrik,
Diagnosis NANDA,
Kriteria Hasil NOC, Intervensi NIC. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.
Roach, S. 2001. Introductory Gerontological Nursing.
Lippincott. Philadelphia
Tabloski, P.A. 2006. Gerontological Nursing. Pearson
Prentice Hall. New J10
Senin, 13 Oktober 2014
Posted by PUSKESMAS TURI
On Oktober 13, 2014
Penyakit virus ebola
| Penyakit virus ebola | |
| Klasifikasi dan rujukan eksternal | |
|---|---|
| Sebuah fotografi pada tahun 1976 yang menunjukkan dua perawat berdiri di depan Mayinga N., seorang pengidap Ebola; ia meninggal beberapa hari setelah mengalami pendarahan internal. | |
| UNTUK LIHAT VIDEO KLIK DSINI | |
| UNTUK LIHAT VIDEO KLIK DISINI | |
Penyebab dan diagnosis
Virus mungkin didapatkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh hewan yang terinfeksi (bisanya monyet atau kelelawar buah).[1] Penyebaran lewat udara belum pernah tercatat dalam lingkungan alami.[2] Kelelawar buah diyakini dapat membawa dan menyebarkan virus tanpa terjangkit. Begitu terjadi infeksi pada manusia, penyakit ini dapat menyebar pada orang-orang. Pria yang selamat dari penyakit ini dapat menularkannya lewat semen selama hampir dua bulan. Untuk membuat diagnosis, biasanya penyakit lain dengan gejala serupa, seperti malaria, kolera dan demam berdarah virus lainnya harus dikecualikan terlebih dahulu. Untuk memastikan diagnosis, sampel darah diuji untuk antibodi virus, RNA virus, atau virus itu sendiri.[1]Pencegahan
Pencegahannya meliputi upaya mengurangi penyebaran penyakit dari monyet dan babi yang terinfeksi ke manusia. Hal ini dapat dilakukan dengan memeriksa hewan tersebut terhadap infeksi, serta membunuh dan membuang hewan dengan benar jika ditemukan penyakit tersebut. Memasak daging dengan benar dan mengenakan pakaian pelindung ketika mengolah daging juga mungkin berguna, begitu juga dengan mengenakan pakaian pelindung dan mencuci tangan ketika berada di sekitar orang yang menderita penyakit tersebut. Sampel cairan dan jaringan tubuh dari penderita penyakit harus ditangani dengan sangat hati-hati.[1]Belum ada pengobatan khusus untuk penyakit ini, upaya untuk membantu orang yang terjangkit meliputi pemberian terapi rehidrasi oral (air yang sedikit manis dan asin untuk diminum) atau cairan intravena.[1] Penyakit ini memiliki tingkat kematian yang tinggi: seringkali menewaskan antara 50% hingga 90% orang yang terinfeksi virus.[1][3] EVD pertama kali diidentifikasi di Sudan dan Republik Demokratik Kongo. Penyakit ini biasanya mewabah di wilayah tropis Afrika Sub-Sahara.[1] Sejak tahun 1976 (ketika pertama kali diidentifikasi) hingga 2013, kurang dari 1.000 orang per tahun telah terinfeksi.[1][4] Wabah terbesar hingga saat ini adalah wabah Ebola Afrika Barat 2014 yang sedang terjadi, dan melanda Guyana, Sierra Leone, Liberia dan kemungkinan Nigeria.[5][6] Hingga bulan Agustus 2014, lebih dari 1600 kasus telah diidentifikasi.[7] Upaya sedang dilakukan untuk mengembangkan vaksin, namun belum membuahkan hasil.[1]
Referensi
- ^ a b c d e f g h i "Ebola virus disease Fact sheet N°103". World Health Organization. March 2014. Diakses 12 April 2014.
- ^ "2014 Ebola Virus Disease (EVD) outbreak in West Africa". WHO. Apr 21 2014. Diakses 3 August 2014.
- ^ C.M. Fauquet (2005). Virus taxonomy classification and nomenclature of viruses; 8th report of the International Committee on Taxonomy of Viruses. Oxford: Elsevier/Academic Press. hlm. 648. ISBN 9780080575483.
- ^ "Ebola Viral Disease Outbreak — West Africa, 2014". CDC. June 27, 2014. Diakses 26 June 2014.
- ^ "CDC urges all US residents to avoid nonessential travel to Liberia, Guinea, and Sierra Leone because of an unprecedented outbreak of Ebola.". CDC. July 31, 2014. Diakses 2 August 2014.
- ^ "Outbreak of Ebola in Guinea, Liberia, and Sierra Leone". CDC. August 4, 2014. Diakses 5 August 2014.
- ^ "Ebola virus disease update - West Africa". WHO. Aug 4, 2014. Diakses 6 August 2014.
- Bibliografi
- Klenk, Hans-Dieter (January 1999). Marburg and Ebola Viruses (Current Topics in Microbiology and Immunology). Berlin: Springer-Verlag Telos. ISBN 978-3-540-64729-4.
- Klenk, Hans-Dieter; Feldmann, Heinz (2004). Ebola and Marburg viruses: molecular and cellular biology (Limited preview). Wymondham, Norfolk, UK: Horizon Bioscience. ISBN 978-0-9545232-3-7.
- Kuhn, Jens H. (2008). Filoviruses: A Compendium of 40 Years of Epidemiological, Clinical, and Laboratory Studies. Archives of Virology Supplement, vol. 20 (Limited preview). Vienna: SpringerWienNewYork. ISBN 978-3-211-20670-6.
- McCormick, Joseph; Fisher-Hoch, Susan (June 1999) [1996]. Level 4: Virus Hunters of the CDC (Limited preview). Horvitz, Leslie Alan (ed. Updated [3rd]). Barnes & Noble. ISBN 978-0-7607-1208-5.
- Pattyn, S. R. (1978). Ebola Virus Haemorrhagic Fever (Full free text) (ed. 1st). Amsterdam: Elsevier/North-Holland Biomedical Press. ISBN 0-444-80060-3.
- Ryabchikova, Elena I.; Price, Barbara B. (2004). Ebola and Marburg Viruses: A View of Infection Using Electron Microscopy. Columbus, Ohio: Battelle Press. ISBN 978-1-57477-131-2.
Categories:
Langganan:
Postingan (Atom)




















